Sabtu, 03 Mei 2014

wakatobi

“Taman Laut Wakatobi memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dan dihuni lebih dari 750 spesies laut”
Sulawesi Tenggara Underwater Paradise
Pagi ditepi pantai Wakatobi tak pernah terlupakan. Riak gelombang terdengar merdu menyambut cerah cakrawala. Hamparan pasir putih, banyu biru serta hutan nyiur melukiskan pantai ini sungguh eksotis.
Menyusuri bibir pantai, ikan hias warna-warni terlihat jelas bercumbu di antara terumbu karang. Berjalan ketengah dengan perahu motor, sebuah pemandangan terlihat menakjubkan, gugusan terumbu karang yang dinyatakan sebagai surga laut terindah didunia.
Dalam peta wisata dunia, Wakatobi lebih dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi. Taman Laut Wakatobi hasil perpaduan empat pulau utama: pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Kabupaten Wakatobi yang baru berusia empat tahun ini terletak di ujung Pulau Sulawesi Tenggara.
Wakatobi memanjang dari utara ke selatan, antara 05,15 derajat LS sepanjang kurang lebih 160 km, dan membentang dari barat ke timur antara 123,30 derajat sampai 124,15 derajat BT sepanjang kurang lebih 120 km. Dengan terumbu karang tunggal terbesar di dunia, Wakatobi menjadi surga bagi para pencinta wisata bahari. Hamparan terumbu karang terbentang luas dengan topografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope, flat, drop off, atoll dan underwater cave ditambah kekayaan biota laut yang beraneka ragam.
Kedalaman lautnya bervariasi. Bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan berpasir dan berkarang. Ikan hias berwarna-warni tampak bermain-main di sela-sela terumbu karang yang eksotis.
Secara spesifik, Taman Laut Kepulauan Wakatobi memiliki kurang-lebih 25 buah gugusan terumbu karang dengan jumlah 750 spesies yang dikelilingi total 600 kilometer persegi, ditambah lagi dengan obyek wisata pantai yang sangat potensial di sepanjang wilayah Wakatobi.
Potensi tersebut menjadikan kawasan ini sangat comfortable untuk aktivitas laut seperti surfing dan snorkeling serta wisata memancing. Biasanya musim kunjungan ramai antara bulan April sampai Juni, dan Oktober hingga Desember. Pada musim tersebut ombak sangat bersahabat, tenang sekaligus nyaman.
Ke Taman Laut Wakatobi tak perlu khawatir soal penginapan. Wakatobi Dive Resort di Pulau Onemobaa-Tomia siap menyambut. Ditempat ini juga menawarkan program wisata scuba diving yang berstandar dunia. Didukung oleh rumah karang yang spektakuler serta kemudahan akses ke tempat penyelaman dengan keanekaragaman kehidupan bawah laut, ditambah lagi dengan keamanan dan kenyamanan dalam melakukan aktivitas selam.
Wakatobi Resort memiliki perangkat komunikasi satelit dengan akses internet 24 jam. Berkat fasilitas itu, Wakatobi Dive Resort melayani tamu dengan pelayanan standar internasional.
Wakatobi memiliki aksesibilitas yang cukup mudah terjangkau dari kota-kota terdekat seperti Bau-Bau maupun Kendari. Transportasi yang digunakan pada umumnya adalah kapal cepat yang berkapasitas muatan sampai dengan 275 penumpang, dengan rute perjalanan sebagai berikut: Dari Denpasar Bali ke Tomia, Wakatobi tersedia jalur transportasi udara dengan jadwal penerbangan 3 kali dalam satu bulan serta penerbangan reguler setiap hari dengan rute Kendari-Bau Bau-Wangi Wangi.
Dari Ibukota Provinsi Kendari menggunakan kapal cepat dengan jadwal keberangkatan 4 kali sehari mengantar Anda ke Bau Bau dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Kemudian dari Bau Bau melanjutkan perjalanan ke Wangi Wangi dengan menggunakan kapal motor reguler dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Dari Wangi Wangi tersedia pelayaran dengan kapal reguler setiap hari ke Kaledupa (Hoga), Tomia (Onemobaa), dan Binongko kurang-lebih 2-4 jam.
Selain dimanjakan dengan pemandangan bawah laut, Wakatobi juga menyimpan keagungan budaya serta jejak-jejak peninggalan masa lalu. Diwilayah ini banyak terdapat benteng dengan ragam bentuk dan ukuran yang berdiri tegak di puncak bukit, antara lain Benteng Liya, Benteng Mandati Tonga, Benteng Tindoi di Wangi-Wangi dan Wang Selatan. Benteng Ollo dan Benteng Kamali di Kaledupa, Benteng Pattua di Tomia dan Benteng Palahidu di Binongko.
Tiap-tiap benteng menawarkan pemandangan alam yang menawan dengan keunikan sejarah dan benda-benda peninggalan yang bersejarah, seperti masjid-masjid tua, kuburan-kuburan tua, peralatan-peralatan kerajaan, dan benda-benda purbakala lainnya.
Masyarakat Wakatobi dikenal memiliki tangan-tangan terampil yang menghasilkan berbagai kerajinan tradisional dari bambu dan sutra menjadi gelang, kalung dan aksesoris cantik lainnya.
Para orang tua mengolah bambu, rotan, tempurung kelapa maupun sutra untuk menciptakan berbagai macam kerajinan seperti sarung Leja, layang-layang tradisional, keranjang bambu, bubu, tembikar, dan lain-lain.
Sementara itu para perempuan Wakatobi terkenal terampil membuat tembikar dan sarung tenun Paleka/Leja, yaitu sarung tenun yang dibuat dengan alat tradisional yang dikenal sebagai kerajinan “Homoru”. Kerajinan ini adalah salah satu kerajinan pembuatan sarung tenun yang unik, bukan hanya karena teknik pembuatannya tetapi juga karena cara pembuatan motif sarung yang berkarakter dan penuh ornamen-ornamen seni.
Itulah Wakatobi, keindahan pantainya, pesona terumbu karangnya, hingga kekayaan budayanya tak pernah terlupakan. Bila sudah kesini, mungkin tak hanya cukup sekali untuk menikmatinya. [Teguh S Gembur]

Tanah Tingal


Wisata Pedesaan di Selatan Jakarta
SETIAP akhir pekan tiba, Bonang selalu berusaha mengisi waktu bersama kedua anaknya, Arsal (9) dan Kiki (2). Untuk mengisi acara akhir pekan itu, wisata alam selalu menjadi pilihan favorit mereka. ”Saya ingin mendekatkan anak-anak dengan alam,” ujar pria berusia 40 tahun ini.
Keluarga Bonang tinggal di kawasan Pamulang, Tangerang. Kendati kerap berlibur ke Puncak, Bogor, keluarga Bonang sebenarnya lebih suka memilih tempat liburan yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Pasalnya, jalur ke Puncak kerap macet saat akhir pekan atau hari libur.
Namun mencari tempat wisata alam yang dekat dengan wilayah Jakarta memang agak sulit. Banyak lahan yang tadinya merupakan kawasan hijau sudah berubah menjadi kawasan perumahan atau perkantoran. Maka, ketika Bonang mendengar kabar bahwa ada tempat wisata alam di daerah selatan Jakarta, yang tak jauh dari tempat tinggalnya, karyawan swasta ini buru-buru menjajalnya. Tempat wisata alam ini bernama Tanah Tingal. Lokasinya di Jalan Merpati Raya, Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat, Tangerang. Dari terminal Lebak Bulus jaraknya sekitar 10 kilometer.
“Di sini anak-anak saya ketagihan main kayak dan flying fox,” ujar Bonang. Kayak adalah perahu kecil yang berpenumpang paling banyak dua orang. Dengan menunggang kayak, anak-anak bisa bertualang mengelilingi danau buatan. Tiketnya hanya Rp 15 ribu per putaran. Bahkan, di hari-hari biasa yang tak padat pengunjung, dengan tiket yang tak mahal itu anak-anak bisa bermain kayak sepuasnya.
Selain bermain kayak, permainan flying fox pun banyak digemari anak-anak. Flying fox adalah permainan meluncur dari pohon ke pohon. Menurut Bonang, permainan itu selain memacu adrenalin juga melatih keberanian anak. Sebab, anak-anak harus meloncat dari satu pohon ke pohon lain dengan menggunakan tambang. Untuk menikmati permainan itu, tiketnya pun hanya Rp 15 ribu. Permainan lain yang tak kalah menarik antara lain panjat dinding dan meniti jembatan tali. Anak laki-laki umumnya sangat menyukai permainan ini.
Rifa, salah seorang staf di Tanah Tingal, menjelaskan bahwa pada awalnya lahan seluas 11 hektar itu adalah milik almarhum Budiardjo, Menteri Penerangan Kabinet Pembangunan I pada era Soeharto. Karena almarhum memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan, maka disulaplah lahan ini sebagai tempat wisata pendidikan untuk anak-anak.
Sebagai wahana edukasi, tiket masuknya pun tidak terlalu mahal. Pada hari Minggu atau hari libur, tiket masuk dibanderol sebesar Rp 10 ribu. Sedangkan pada hari biasa tiketnya hanya Rp 8 ribu. Anding, Marketing Manager Tanah Tingal, menjelaskan bahwa tersedia pula paket kegiatan outing atau outbond untuk rombongan. Untuk kegiatan ini sudah disiapkan berbagai permainan ketangkasan, mulai dari panjat dinding, meniti tali-temali, hingga menyeberang jembatan.
Biaya untuk rombongan sebanyak 300 orang sebesar Rp 250 ribu per orang. Namun, bila jumlah peserta di bawah 50 orang, dikenakan biaya Rp 275 ribu per orang. ”Harga tersebut sudah termasuk makan,” ujar Anding.
Fasilitas fisik lainnya di Tanah Tingal juga disewakan untuk rombongan. Misalnya lokasi kolam renang disewakan Rp 2 juta per dua jam, sedangkan area danau Rp 800 ribu per dua jam. Ruangan dengan kapasitas 50 orang disewakan Rp 500 ribu, sedangkan yang berkapasitas 25 orang Rp 250 ribu.
Bagi wisatawan yang ingin melewatkan malam bersuasana pedesaan yang hening dan hanya dihiasi nyanyian jengkerik dan katak, tersedia pula penginapan dengan biaya Rp 60 per orang. ”Harga tersebut juga sudah termasuk makan pagi,” jelas Anding.
Aktivitas lain yang ditawarkan Tanah Tingal adalah mengintip burung (birdwatching). Saat paling ideal untuk kegiatan birdwatching tentu saja adalah pagi hari. Aneka jenis pohon yang tumbuh di sekitar Tanah Tinggal memang menjadi surga bagi berbagai jenis burung yang tentu menarik bagi para wisatawan.
Terdapat sekitar 30 jenis burung yang bisa diamati di Tanah Tingal, mulai dari yang sudah banyak dikenal hingga yang langka, misalnya burung Raja Udang. Jumlah 30 jenis itu adalah hasil riset dari para anggota BirdLife Indonesia saat melakukan pendataan di tempat ini. Kehadiran burung Raja Udang di Tanah Tingal merupakan indikasi bahwa kualitas alami kawasan ini masih tergolong bagus. Karena itu, memang tepat sebagai destinasi wisata bagi siapapun yang merindukan kesegaran alam, udara bersih dan hijau pepohonan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar